Ada yang mengatakan bahwa keinginan spiritual adalah bentuk kesombongan, dan hanya mereka yang beruntung yang dapat meraihnya.Tetapi tidakkah lebih baik mencurahkan segenap hidup untuk mengejar hasrat tersebut dibandingkan terikat urusan duniawi? Selama kita belum mempertaruhkan diri sendiri, dan selama kita masih terikat seseorang atau sesuatu, itu berarti kita belum merdeka.
Beberapa lembah perjalanan yang dilalui
bagi penempuh jalan spiritual untuk menuju Tuhan, menurut Fariddudin Attar ada
7 lembah :
Lembah Pencarian
Lembah Cinta
Lembah Kesadaran
Lembah Kebebasan
Lembah Keesaan
Lembah Misteri
Lembah Kemiskinan dan
Ketiadaan
LEMBAH PENCARIAN
Memasuki lembah pencarian, seratus kesulitan akan menyergap dari berbagai
penjuru dan akan mengalami seratus cobaan. Kita harus meninggalkan
sesuatu yang nampak berharga bagi diri kita dan memandang semua milik kita
tidak berarti apa-apa. Barulah hati kita terselamatkan dari kehancuran.
Barang siapa memasuki lembah ini, hatinya dipenuhi kerinduan sehingga
mengabdikan segenap jiwanya untuk mencari perlambang lembah ini. Di jalan
penyempurnaan diri, kita tidak boleh terlena walaupun sejenak . Bila sekejap
saja kita berhenti menyempurnakan diri kaki kita tergelincir mundur beberapa
langkah.
Di jalan ruhani, cinta dan harapan sama-sama diperlukan. Bila kita tidak
memiliki kedua hal ini,lebih baik tinggalkan pencarian. Kita harus berusaha dan
bersabar. Bersabar dan berusahalah dengan harapan mendapatkan petunjuk jalan.
Kuasailah diri kita dan jangan sampai kehidupan lahiriah menawanmu.
LEMBAH CINTA
Untuk memasukinya kita harus menjadi api yang menyala. Wajah pecinta harus
menyala, berkilauan dan berkobar. Cinta sejati tidak mengenal pikiran nanti. Di
lembah cinta ini, cinta dilambangkan dengan api menyala sementara pikiran
bagaikan asap. Apabila cinta sudah datang, pikiranpun lenyap. Pikiran tak bias
menyatu dengan keluguan cinta dan cinta tidak berurusan dengan akal
pikiran manusia.
Bila engkau memiliki pengetahuan batin, inti dari dunia lahiriah akan
tersingkapkan tetapi bila kita memandang segala sesuatu dengan mata lahiriah,
maka kita tidak akan pernah mengerti apa artinya mencintai. Hanya yang teruji
dan terbebaskan merasakan keadaan ini. Penempuh perjalanan spiritual hendaknya
memiliki seribu hati sehingga setiap saat dia bisa mengorbankan salah satu
hatinya.
Ketika kita menempuh jalan cinta, buanglah prasangka dan tinggalkan
keterikatan pada hal-hal yang bersifat lahiriah. Dan agar tidak menjadi sumber
kejahatan, tutuplah jalan dendam dan cinta diri. Selama kita masih
mempertahankan kesombongan diri, maka kelelahanmu mempelajari kitab-kitab suci
dan usaha kecil kita hanya seharga sekeping obol. Hanya dengan meninggalakan
kesombongan dan kebanggaan, kita dapat meninggalkan kehidupan lahiriah
tanpa merasa menyesal kemudian. Jika masih sombong dan membanggakan diri pada
persoalan-persoalan lahiriah, maka tunggulah seratus anak panah kesengsaraan
akan menghujani dari segala menjuru.
LEMBAH KESADARAN
Lembah kesadaran (keinsafan), tanpa permulaan dan akhir. Tidak ada jalan
serupa dengan jalan ini. Jaraknya tidak dapat diperkirakan jauhnya. Keinsafan
bersifat kekal bagi penempuh jalan ini sementara pengetahuan hanya sebentar.
Jiwa, seperti halnya raga, mengalami keadaan maju mundur. Dan jalan ruhani
menampakakan dirinya setelah penempuhnya melampaui kesalahan dan kelemahannya,
tidur dan kemalasannya. Setiap penempuh perjalanan semakin dekat dengan
tujuannya, sesuai dengan usahanya masing-masing.
Keinsafan dapat dicapai dengan beraneka cara, sebagian menemukan di Mihrab,
sebagian lain di depan. Apabila matahari keinsafan menerangi jalan ini,
masing-masing memperoleh cahayanya seimbang dengan usahanya dan mendapatkan
tingkatan sebanding keinsafan terhadap kebenaran.
Jangan tidur wahai manusia, jika engkau ingin mengetahui dirimu.
Kawallah benteng dengan waspada karena pencuri dan perampok berkeliaran. Jangan
engkau biarkan mereka mengambil permatamu. Pengetahuan sejati mendatangi mereka
yang selalu terjaga. Yang bersabar mengawal benteng, mengetahui kapan Tuhan
mendekat. Jika para pecinta sejati ingin menyerahkan diri dalam kemabukan
cinta, mereka akan menyendiri. Pemilik cinta ruhani menggenggam kunci dua dunia
di tangannya. Jika dia perempuan berubah menjadi laki-laki. Jika dia laki-laki
berubah jadi samudra.
LEMBAH KEBEBASAN
Pada lembah keempat ini tidak ada lagi nafsu memiliki atau keinginan
menemukan. Dalam keadaan seperti ini, angin dingin bertiup dengan ganas
sehingga dalam sejenak angin menghancurkan smesta yang luas. Tujuh lautan sama
dengan sebuah lubang air. Tujuh galaxy sama dengan setitik kembang api.
Tujuh langit sama dengan bangkai. Tujuh neraka hanyalah es yang mencair.
Kemudian sebaliknya, sesuatu tidak bisa dinalar manusia. Seekor semut sama
seperti seratus gajah dan seratus kafilah tewas sementara seekor gajah memakan
bangkainya.
Di lembah ini baru dan lama tidak berharga. Engkau diperbolehkan berbuat
atau tidak berbuat. Bila engkau melihat seluruh dunia terbakar dan semua hati tidak
lebih dari kapas. Semua hanya khayalan, bila dibandingkan kenyataan sebenarnya.
Jika puluhan ribu jiwa tenggelam ke dalam lautan tak terbatas, itu seperti
setitik embun. Bila langit dan bumi harus meledak menjadi serpihan-serpihan,
itu tidak berbeda dengan setangkai daun luruh. Apabila segalanya harus
dimusnahkan , sejak dari ikan penyangga bumi sampai bulan di langit,
masihkah ada kaki semut lumpuh di dalam sumur? Jika tidak ada lagi jejak
manusia dan jin, rahasia setitik air asal sesuatu harus direnungkan kembali.
Lembah ini tidak mudah dilalui sebagaimana prasangka lugumu. Meskipun darah
hatimu memenuhi lautan, engaku baru memulai tahap pertama. Meskipun engkau
telah menjelajahi semua jalan di dunia, namaun engkau masih saja dilangkah
pertama. Tidak ada musafir yang mengetahui akhir perjalananini dan tidak ada
yang menemukan penawar cinta. Jika engkau berhenti, engkau membeku atau bahkan
mati. Jika engkau lanjutkan langkahmu, kau dengar seruan, “Majulah terus lebih
jauh lagi”. Engkau tidak dapat berjalan atau berhenti. Tidak ada manfaatnya
lagi hidup atau mati.
LEMBAH KEESAAN
Di lembah ini semuanya pecah terurai lalu menyatu kembali. Semua yang
mendongakkan kepalanya berleher satu. Meskipun kelihatannya banyak, namun
hakikatnya satu. Semuanya Esa dalam kesempurnaan Yang Esa. Dan sekali lag, yang
terlihat esa tidak berbeda dengan yang banyak. Seseorang bertanya kepada
seorang arif,” Apakah dunia ini ?. Dengan apakah dapat diumpamakan ?”. Dunia
ini paduan kengerian dan kejahatan. Bagaikan pohon palma dihiasi seratus warna
lilin. Karena itulah, warna dan bentuk yang engkau kagumi tidak sebanding
dengan satu obol. Jika ada esa tidak mungkin ada dualitas. “Aku” dan “Engkau”
tidak lagi penting.
Apabila pengembara spiritual memasuki lembah ini, dia akan hilang dan
lenyap dari penglihatan karena wujud tanpa tandingan menampilkan diriNya.
Pengembara terdiam karena pengembara itu berfirman : wahai Tuhan hamba, hanya
Engkaulah yang hamba damba. Hamba tahu kalau tidak diperbolehkan membiarkan
diri dipengaruhi angan-angan kecemasan atau ketakutan.
LEMBAH MISTERI
Setelah lembah keesaan, lembah keheranan dan kebingunganpun membayangi.
Disana kita menjadi mangsa duka dan sedih. Setiap hembusan nafas adalah keluhan
kepedihan dan setiap keluhan bagaikan pedang. Disana hnyalah duka, ratapan dan
kerinduan mendendam siang dan malam hadir dengan serempak. Disana api
menyala-nyala namun kita merasa tertekan dan tak lagi memiliki harapan.
Dalam lembah kebingungan ini muncul pertanyaan, “Mungkinkah kita
melanjutkan perjalanan ini?” Akan tetapi yang melampaui lembah keesaan
lupa segalanya bahkan dirinya sendiri. Jika dia ditanya, “Engaku ada ataukah
tidak? Adakah Engaku atau tidak ada? Apakah engkau berada di tengan atau
ditepian? Apakah Engkau fana atau kekal?” Ia akan menjawab dengan tegas,”Aku
tidak tahu apa-apa”, aku tidak mengerti apa-apa . Aku tidak sadar atas
diriku sendiri. Aku tengah bercinta namun dengan siapa, aku tidak tahu. Hatiku
dipenuhi cinta sekaligus hampa.
Manusia selalu hidup di dalam angan-angan dan mimpi. Tidak ada yang melihat
segala sesuatu sebagaimana adanya. Apabila seseorang mengatakan, Apa yang mesti
kulakukan? Jawablah, “Jangan melakukan apa yang biasa engkau lakukan
dan jangan berbuat yang sudah biasa engkau perbuat”.
Mereka yang memasuki lembah keheranan ini akan bersedih memikirkan seratus
dunia. Bagiku mereka kebingungan dan tersesat. Kemanakah aku harus melangkah?
Berdoalah agar aku tahu apa yang harus aku lakukan! Tetapi ingatlah ratapan
manusia menurunkan rahmat langit.
LEMBAH KEMATIAN
Lembah terakhir yang akan dilalui adalah keterampasan dan kematian, hamper
tidak bias dijelaskan. Hakikat lembah ini adalah lupa, buta, tuli dan
kebingungan.Seratus baying-bayang yang menghalangimu lenyap dibuyarkan secercah
cahaya matahari langit. Apabila laut maha raya bergelora, permukaannya
kehilangan bentuk. Bentuk tidak lain adalah dunia kini dan dunia nanti.
Siapakah yang menganggap dirinya tidak memperoleh kemuliaan Agung? Setitik
air lautan kan tetap tinggal disana, abadi dan damai. Di laut maha tenang, pada
mulanya kita terhina dan terbuang tetapi setelah terangkat dari keadaan ini,
kita memahaminya sebagai makluk dan banyak sekali rahasia tersingkkap.
Banyak sekali makluk salah langkah pertama sehingga gamang dilangkah kedua,
mereka seperti benda-benda tambang.Apabila kayu dan duri terbakar menjadi abu,
keduanya terlihat sama namun mutunya berbeda. Benda najis dimasukkan ke air
tawar tetap najis karena sifat dasarnya. Akan tetapi benda suci dimasukkan ke
dalam lautan kehilangan wujudnya dan menyatukan diri dengan gerak ombak lautan.
Ketika berhenti dan terpisah dari lautan , dia memancarkan keindahannya
sendiri. Dia ada dan tidak ada. Bagaimana hal ini terjadi, akal pikiran tidak
dapat membayangkannya.
Leburkan dirimu dalam gelora api cinta sehingga engkau tiudak lebih sehelai
rambut, dan engkau layak menjadi sehelai rambut dari rambut kekasih.Apabila
matamu menatap jalan dan selalu mengawasi, renungkan dan pikiran rambut helai
demi helai.
Sumber: Buku Perjalanan Menuju Tuhan (Faridudin Attar)

Posting Komentar